Fenomena Kebiasaan Foto Saat Liburan, Distraksi atau Menambah Nilai Kebahagiaan?

Oleh: Belinda Azzahra, Dyasanti Saputri 

“Mas, boleh minta tolong fotoin gak? Sekalian pemandangan belakangnya ya mas!”


Percakapan tersebut pasti sering kita dengar ketika kita menjelajahi tempat wisata dengan keindahan alam, atau pergi liburan ke suatu tempat. Mengambil foto dapat dilihat sebagai kegiatan sekunder yang mengurangi keterlibatan dan kesenangan ketika merasakan pengalaman karena perhatian kita yang bergeser menjadi fokus terhadap proses memfoto. Banyak studi telah meneliti bagaimana melakukan dua tugas berbeda secara bersamaan mempengaruhi fungsi kognitif, dengan fokus utama pada latensi respon dan akurasi sebagai tolak ukur (Pashler, 1994). Satu proses aktivitas atau kegiatan tentuya melibatkan perhatian, sehingga ketika kita melakukan banyak aktivitas yang memanfaatkan sumber perhatian yang sama, fokus perhatian kita akan terbagi dan dapat menghambat kinerja. 

Selain mempengaruhi kinerja, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa rasa positif yang didapat dari melakukan suatu aktivitas dapat berpengaruh ketika aktivitas tersebut dilakukan secara bersamaan dengan aktivitas lain. Misalnya, menonton acara TV sambil menggunakan Facebook dapat mengurangi rasa senang ketika mengerjakan hal tersebut karena fokus atensi terbagi dua (Oviedo, Tornquist, Cameron, & Chiappe, 2015). Berdasarkan penemuan ini, aktivitas mengambil foto saat kita sedang melakukan suatu aktivitas primer (liburan mengunjungi tempat baru, contohnya dapat menciptakan gangguan dan mengalihkan perhatian. Karena fokus kita terbagi, otomatis pengambilan foto dapat menurunkan rasa positif, kan? Ternyata, ini tidak sepenuhnya betul.  


Sisi Positif Mengambil Foto 

Beberapa studi berpendapat bahwa pengambilan foto dapat meningkatkan keterlibatan diri kita di suatu pengalaman dan dengan demikian meningkatkan perasaan positif kita terhadap pengalaman tersebut. Dalam situasi ketika orang melakukan aktivitas ganda, mereka membagi dan mengalihkan perhatian mereka antara dua atau lebih tugas yang tidak saling terkait. Namun, aktivitas mengambil foto berbeda dari situasi tersebut, karena pengambilan foto biasanya memerlukan perhatian yang diarahkan ke pengalaman yang ingin ditangkap. Dengan demikian, pengambilan foto tidak mengalihkan perhatian dari pengalaman, tetapi malah memusatkan perhatian pada pengalaman. Di mana perhatian akan diarahkan, kemungkinan besar tergantung pada sifat aktivitas. Selama pengambilan foto meningkatkan keterlibatan kita dalam suatu pengalaman dengan memusatkan perhatian kita pada pengalaman tersebut, maka mengambil foto dapat meningkatkan level kesenangan kita.

Sebuah studi menyatakan bahwa aktivitas photo taking itu sendiri dapat memperkuat pengalaman positif yang sedang berlangsung atau kita jalani. Teorinya disini adalah bahwa manusia sering jatuh ke siklus hedonic adaptation dimana otak kita menjadi terbiasa terhadap suatu pengalaman positif maupun negatif, dan kita tidak lagi merasa kita mendapat ‘kebahagiaan’ dari pengalaman tersebut. Contoh yang paling sering kita temui adalah ketika kita beli barang; setelah kita terbiasa, ya, jadi biasa saja. Dengan mengambil foto, kita mempraktikkan strategi bernama savouring, yaitu praktik menikmati suatu aktivitas dengan cara yang active memory building.  

Meningkatkan Kualitas Pengalaman Positif 

Di kelas The Science of Well-Being’ oleh Dr. Laurie Santos, salah satu strategi untuk meningkatkan kualitas pengalaman kita adalah dengan menyiasati for hedonic adaptation. Salah satu cara untuk melakukan hal ini adalah dengan savouring. Savouring adalah kegiatan kita menggunakan beberapa waktu kita untuk menikmati suatu pengalaman dengan menulis tentang pengalaman tersebut, menceritakan pengalaman tersebut kepada orang lain, atau dalam kasus ini, mengambil foto. Walaupun mengambil foto mungkin sering terasa seperti menginterupsi aktivitas yang sedang kita lakukan, kalau tujuan kita adalah savouring, maka hal itu dapat menjadi hal baik. Namun jika karena hanya ingin memamerkannya di Instagram, tanpa keinginan betul-betul untuk menyimpan memori tersebut, hal ini merupakan hal yang kurang positif dan kemungkinan tidak akan meningkatkan kualitas dari pengalaman tersebut. 

Secara khusus, Bryant dan Veroff (2007) mendefinisikan savouring atau “menikmati” sebagai proses di mana orang terlibat ‘untuk memperhatikan, menghargai, dan meningkatkan pengalaman positif dalam hidup mereka’. Hal ini dilakukan dengan memperpanjang pengalaman positif tersebut melalui beberapa strategi kognitif yang telah mereka usulkan: berbagi cerita dengan orang lain, mengekspresikan perilaku positif seperti tertawa, menghitung berkah dengan menulis jurnal gratitude, memberi selamat pada diri kita sendiri saat melakukan kerja yang bagus, dan penajaman indrawi-persepsi seperti berfokus pada sensasi fisik pengalaman yang menyenangkan. Maka dari itu, mengambil foto atau memotret bisa menjadi salah satu cara bagi kita untuk “menikmati” pengalaman yang ada. 

Selain mengambil foto, strategi-strategi dibawah ini juga dapat meningkatkan kualitas pengalaman positif kita:

  1. Mengabadikan Momen Melalui Journaling

Hanya membutuhkan pena dan kertas, kita sudah bisa memulai untuk menuliskan pengalaman dan aktivitas yang kita lalui ke dalam bentuk-bentuk journaling yang unik. Sensasi ketika menyusun bentuk journaling yang unik dan kreatif membuat kita merasakan pengalaman positif dan menumbuhkan rasa senang dan nikmat yang bertahan lama. Apalagi, ketika proses journaling sudah selesai maka ada kepuasan tersendiri di diri kita melihat proses perjalanan pengalaman yang berharga tersebut. 

  1. Menulis dan Membagikan Pengalaman 

Saat merasakan pengalaman yang mengesankan dan tak terlupakan, kita bisa menulis semua yang kita rasakan dengan bahasa kita sendiri dan membagikan cerita tersebut lewat berbagai platform seperti Personal Blog, Medium, dan  Quora. Ketika kita bisa menghibur para pembaca dan membuat mereka seolah-olah juga merasakan pengalaman yang sama, hal tersebut dapat meningkatkan rasa senang yang kita miliki. Apalagi, tulisan kita diramaikan oleh berbagai komentar yang positif dan membangun oleh para pembaca yang membuat kita berada di atmosfer positif dan menyenangkan.  

  1. Merangkum Pengalaman 

Merangkum pengalaman berharga atau unik ke dalam sebuah video singkat, microblog, serta bentuk lain juga membantu kita merasakan makna dan nilai dari pengalaman yang telah kita lalui. Membuat jejak berupa rangkuman pengalaman dan aktivitas terus membuat kita ingat bahwa kita pernah merasakan pengalaman positif dan menyenangkan yang bisa menjadi alat bagi kita untuk bangkit di saat sedang masa down. 

Oleh karena itu, mengambil foto sejatinya bisa berakibat pada dua hal, menambah nilai kebahagiaan atau bisa menjadi distraksi. Pintar-pintarnya kita dalam memposisikan diri ketika sedang menjalankan suatu aktivitas atau pengalaman. Buat aktivitas mengambil foto sebagai aktivitas sekunder yang membuat kita menjadi lebih fokus dan perhatian terhadap objek aktivitas tersebut. Jangan hanya mengambil foto sebagai bahan pamer di sosial media, yang bisa menurunkan esensi nilai dari pengalaman dan aktivitas yang kita alami tersebut. Selain mengambil foto, banyak kegiatan lain yang dapat mendukung kita merasakan pengalaman positif sembari menambah nilai kebahagiaan, selagi kita bisa menyeimbangkan dengan aktivitas primer kita, kegiatan tersebut bukanlah menjadi masalah. 

Referensi