Hiruk Pikuk Kemajuan Aplikasi Transaksi Keuangan: Bagaimana Membangun Literasi Ekonomi Digital?

Perkembangan teknologi di Indonesia dimulai ketika radio masuk saat Indonesia belum menjadi Indonesia, yaitu saat masih menjadi Hindia Belanda (Nederlandsch Hindi). Nama radionya adalah Bataviase Radio Vereniging dengan lokasi di Batavia (Jakarta). Peresmian radio pertama Indonesia itu terjadi pada 16 Juni 1925. Itu terjadi lima tahun setelah stasiun radio pertama di Amerika dan tiga tahun setelah di Inggris dan Uni Soviet. Dimulai dari radio, teknologi lain seperti televisi, telepon genggam, dan smartphone mulai bermunculan dan mendominasi hampir 24/7 aktivitas manusia saat ini.

Tidak hanya sampai disitu, perkembangan teknologi ini juga menimbulkan efek domino kepada potensi bisnis di Indonesia. Bisnis-bisnis di bidang teknologi mulai bermunculan dan saling bersaing untuk menciptakan dan menyalurkan teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi kerja manusia di bidang apapun, salah satunya di bidang ekonomi, khususnya dalam proses operasional bisnis dan transaksi keuangan. Penyediaan teknologi di bidang operasional bisnis dan transaksi keuangan menjadi salah satu primadona karena cakupan pasar yang sangat besar mengingat semua orang melakukannya setiap hari sebagai aktivitas basis (Business to Consumer) serta potensi B2B (Business to Business) yang besar pula di Indonesia. Bahkan, para investor lokal dan luar negeri mampu menggelontorkan uang sebanyak mungkin untuk berinvestasi dalam pengembangan teknologi yang sekarang marak dilakukan oleh startup.

Namun yang perlu diingat adalah, perkembangan teknologi tidak hanya mendatangkan perkembangan positif yang rapid kepada masyarakat dan bisnis, tetapi risiko negatif seperti kejahatan digital yang juga menghantui, khususnya saat melakukan transaksi digital dengan berbagai aplikasi pembayaran yang ditawarkan. Apalagi transaksi digital dan kejahatan siber di masa Pandemi dua-duanya meningkat tajam. Semenjak pembatasan sosial diberlakukan akibat merebaknya pandemi COVID-19 di seluruh dunia, aktivitas sehari-hari beralih menjadi online. Tak hanya berkomunikasi saja yang dilakukan secara virtual, pekerjaan pun beralih melalui dunia maya. Peralihan semua menuju online menjadi sasaran empuk bagi pelaku kejahatan digital untuk mengelabui para masyarakat yang masih pemula dalam menggunakan teknologi, khususnya transaksi digital. Ancaman besar pada keamanan transaksi digital dan kejahatan siber disaat Pandemi COVID-19 adalah dari para pelaku kejahatan siber untuk menyebarkan malware (virus, ransomware, dsb) dan spam email ke banyak pihak. Berdasarkan informasi yang dirilis oleh penyedia layanan keamanan Trend Micro, setidaknya terdeteksi lebih dari 200.000 kampanye penyebaran malware dan spam yang terjadi di seluruh dunia pada Q1 2020. Di Indonesia sendiri, terdeteksi setidaknya 4800 aktivitas kampanye serupa pada rentang waktu tersebut.

Penyebaran malware dalam jumlah masif dan memanfaatkan keingintahuan masyarakat tentang COVID-19 sangat berpotensi menyebabkan intrusi secara tidak sah pada infrastruktur TI organisasi, kebocoran data sensitif, infeksi malware (ransomware, virus, dsb), atau insiden siber lainnya pada segala bentuk transaksi ekonomi digital. Oleh karena itu, sangat penting bagi masyarakat untuk membangun literasi ekonomi digital sebagai bentuk preventif agar tidak terjebak dalam kejahatan transaksi ekonomi digital. Lantas, bagaimana caranya?

1. Budayakan Membaca Berita Setiap Hari, Khususnya Berita Ekonomi

Membaca berita merupakan cara yang paling mudah untuk di implementasi setiap hari. Kita bisa meluangkan waktu beberapa menit setiap harinya untuk membaca berita dan fokus mempelajari isu-isu ekonomi atau transaksi digital. Dengan begitu, kita menjadi lebih tahu dan aware terhadap modus-modus kejahatan transaksi digital serta cara menanggulanginya. Membaca berita membuat kita tidak mudah terjerumus terhadap dampak negatif perkembangan teknologi dan tetap konsisten memanfaatkan teknologi dengan bijak.

2. Gunakan Aplikasi Transaksi Digital dengan Bijak

Maraknya aplikasi transaksi digital untuk pembayaran, cicilan, serta bentuk transaksi lain yang menawarkan berbagai promosi dan keuntungan harus disikapi dengan bijak pula dalam penggunaannya. Terkadang banyak sekali masyarakat yang tergiur padahal banyak modus-modus penipuan yang mengintai di dalam penawaran menguntungkan tersebut. Sebagai masyarakat yang berpikir kritis dan bijak, ada baiknya kita menganalisis terlebih dahulu produk aplikasi pembayaran terlebih dahulu, mengetahui seluk-beluk penggunaan dan privasi data, serta aspek-aspek lain yang berpotensi menjadi celah untuk melakukan kejahatan transaksi digital.

3. Konsultasi kepada Orang Terdekat atau Praktisioner di Lingkungan Sekitar

Setelah menggunakan suatu produk pembayaran digital, ada baiknya kita bisa konsultasi kepada orang-orang terdekat di sekitar kita, apalagi kalau ada praktisioner di bidang aplikasi, kita bisa meminta pendapat apakah penggunaan aplikasi yang kita pakai aman atau tidak terutama dari segi privasi data. Selain itu, konsultasi juga bisa membantu kita memilih aplikasi yang paling suitable dan cocok dengan kebiasaan bertransaksi kita secara harian sehingga keuntungan/manfaat yang kita dapatkan pun semakin maksimal.

Oleh karena itu, maraknya aplikasi transaksi digital memang menjadi suatu kemajuan yang cukup signifikan dalam meningkatkan efisiensi waktu, biaya, dan tenaga dalam melakukan transaksi keuangan. Namun, hal ini juga bisa menjadi bumerang kepada orang-orang yang tidak melek akan teknologi dan isu-isu ekonomi terbaru. Sehingga, membentuk masyarakat yang memiliki tingkat literasi ekonomi digital sangatlah diperlukan untuk membentuk komunitas masyarakat yang semakin cerdas dan bijak di era kemajuan teknologi ini. (Bel)