Perilaku Impulsive Buying : Bagaimana Cara Mengatasinya?

Pesatnya proses transformasi digital di Indonesia baik di kalangan masyarakat serta bisnis memunculkan berbagai fenomena potensi dan tantangan baru. Dari segi potensi, proses transformasi digital yang mencapai puncaknya di tahun 2030 nanti akan memunculkan realisasi ekonomi sebesar USD 150 Miliar (IDC, Microsoft 2018). Potensi ini tentunya dapat tercapai dengan berbagai usaha dari sektor pemerintah maupun pemangku kepentingan lainnya dalam meningkatkan tingkat melek digital masyarakat Indonesia. Berbagai tantangan dalam mencapai realisasi ini antara lain penyesuaian pertumbuhan bisnis baru, reposisi inti bisnis, tantangan keuangan, dan standar baru kualitas sumber daya manusia (The Transformation 20, Harvard Business Review).

Usaha pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya cukup membuahkan hasil yang memuaskan. Penetrasi digital di Indonesia di tahun 2017 sebesar 54,68% meningkat cukup signifikan sebesar 10,12% menjadi 64,80% (IDC ASEAN 2018). Berbagai sektor bisnis mulai dari bisnis mikro, kecil, medium, hingga besar secara dominan melakukan shifting dan ekspansi bisnis menggunakan teknologi digital. Ditambah lagi dengan kondisi pandemi saat ini serta risiko-risiko yang unpredictable di masa depan mengharuskan berbagai sektor dan lini bisnis memutar otak untuk bisa tetap melakukan operasional bisnis mereka, dan digitalisasi bisnis menjadi solusi yang paling feasible serta implementatif untuk dijalankan. Bergeraknya berbagai bisnis ke arah digital yang cenderung menggunakan promosi intensif dengan pendekatan pemberian insentif (diskon, bundle buying) serta menawarkan fleksibilitas (bermacam alat pembayaran dan rentang waktu yang panjang) juga tentunya turut mengubah perilaku masyarakat, terutama saat bertransaksi.

Salah satu fenomena yang sering kita jumpai saat ini adalah perilaku Impulsive Buying. Impulsive Buying atau biasa disebut juga unplanned purchase merupakan perilaku seseorang dimana orang tersebut tidak merencanakan sesuatu dalam berbelanja. Konsumen yang melakukan Impulsive Buying awalnya tidak berpikir untuk membeli suatu produk atau merek tertentu. Mereka langsung melakukan pembelian karena ketertarikan pada merek atau produk saat itu juga. Menurut Rook dan Fisher (1995: 306) pembelian impulsif diartikan sebagai kecenderungan konsumen untuk membeli secara spontan, reflek, tiba-tiba, dan otomatis. Dari definisi tersebut terlihat bahwa pembelian impulsif merupakan sesuatu yang alamiah dan merupakan reaksi yang cepat.

Perilaku Impulsive Buying cenderung mengarah kepada perilaku yang negatif, karena pada dasarnya kita tidak membutuhkan/memerlukan barang tersebut, namun karena tergiur dengan insentif yang diberikan oleh penjual/bisnis tersebut seperti diskon, beli 1 gratis 1, atau sekadar bentuknya yang lucu/unik, kita menjadi terhasut untuk langsung membeli barang tersebut. Perilaku Impulsive Buying juga sering dihubungkan sebagai salah satu sub-perilaku dari budaya konsumerisme. Pada masyarakat modern abad ke-20, konsumerisme menjadi bagian utama dalam hidup secara terus-menerus, masyarakat tersebut merupakan orang yang tidak mengkonsumsi barang bukan karena membutuhkan secara fungsional, melainkan karena tuntutan prestise (gengsi), status atau sekedar gaya hidup (life style), hal inilah yang sering dilakukan masyarakat ketika melakukan Impulsive Buying. Ditambah lagi, beberapa penelitian lokal menyebutkan bahwa masyarakat dengan perilaku impulsive buying cenderung memiliki kontrol diri dan emosi yang rendah, serta manajemen keuangan yang kurang mumpuni. Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk bisa mengatasi perilaku impulsive buying ini? Berikut beberapa caranya;

1. Buat perencanaan yang matang!
Untuk menghindari dan mengurangi perilaku impulsive buying, sebaiknya masyarakat membuat perencanaan yang detail dan terstruktur. Apakah hanya perencanaan daftar belanja? Tentu tidak. Perencanaan yang dimaksud ialah perencanaan keuangan (penerimaan dan pengeluaran) per periodik, perencanaan daftar belanja, serta perencanaan kebutuhan jangka panjang khususnya yang memerlukan liabilitas/utang. Perencanaan yang matang serta komitmen yang kuat untuk menjalankannya menjadi kunci utama dalam memberantas perilaku impulsive buying.

2. Terapi Keuangan
Terapi keuangan merupakan salah satu usaha untuk mengobati pola pikir dengan memasukkan informasi penting seperti cara meningkatkan pendidikan keuangan, berusaha keras dan disiplin diri dalam mengelola keuangan (manajemen keuangan). Terapi keuangan biasanya adalah orang-orang yang sudah profesional di bidang keuangan atau juga psikolog yang memiliki pendidikan keuangan (Amartha, 2019). Terapi keuangan mampu menjadi salah satu jembatan pembatas terhadap orang-orang yang sudah akut mengalami perilaku impulsive buying.

3. Kontrol & Manajemen Diri
Setelah membuat perencanaan dan terapi keuangan, hal tersebut harus dibarengi dengan komitmen yang kuat dari masyarakat untuk bisa tetap mengontrol dan memanajemen diri sesuai dengan target yang telah ditetapkan di awal. Perencanaan dan terapi keuangan akan berakhir sia-sia jika pada akhirnya masyarakat tidak bisa mengendalikan dirinya dengan baik dan mematuhi rambu-rambu pembatas yang menjurus ke perilaku impulsive buying.

Mengubah kebiasaan tentu tidaklah mudah, apalagi fenomena ini begitu dekat dan banyak sekali pemicunya yang bermunculan di kehidupan kita sehari-hari hanya dengan 1 kali ketukan ketika melihat alat komunikasi digital. Namun, 1 langkah kecil perlahan-lahan tetap dibutuhkan untuk bisa mendisiplinkan diri kita dan tentunya terhindar dari fenomena negatif akibat derasnya arus transformasi digital.